Sunday, 30 August 2015

Nusantara Dan Indonesia

Berbeda-kah Nusantara dan Indonesia? Sebutan Nusantara berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu kata nusa yang berarti “pulau”, dan antara yang berarti “luar”. Nusantara digunakan untuk menyebut pulau-pulau di luar Majapahit (Jawa). Sebutan Nusantara pernah coba dihidupkan oleh Ki Hajar Dewantara untuk menggantikan sebutan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie), namun lebih disetujui-nya penggunaan sebutan Indonesia oleh Kongres Pemuda Indonesia (dalam Sumpah Pemuda) tahun 1928, sebutan Nusantara digunakan sebagai sinonim untuk menyebut kepulauan Indonesia.




Nama Indonesia sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu indo/indu yang berarti Hindu/Hindia dan nesia/nesos yang berarti pulau. Orang yang pertama kali memperkenalkan nama Indonesia adalah orang Inggris bernama George Samuel Windsor Earl dalam tulisannya yang berjudul “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations” pada tahun 1850 di Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), terbitan Singapura. Akhirnya istilah Indonesia sampai ke tangan orang-orang Indonesia pada awal abad ke-20 dan menjadi sebuah identitas bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda.

Kata Nusantara tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16) untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang dianut Majapahit. Asal kata "Nusantara" sendiri didapatkan dari Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Patih Gajah Mada dalam upacara pengangkatan dirinya sebagai Patih Amangkubhumi Kerajaan Majapahit pada tahun 1258 Saka/1336 M, yang tertulis di dalam Kitab Pararaton (Raja-raja):
Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”. Arti dari kutipan berbahasa Jawa tersebut adalah: Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.

Keterangan mengenai nama - nama wilayah yang ada dalam sumpah palapa, dapat diartikan sebagai berikut: 
  • Gurun = Nusa Penida
  • Seran = Seram
  • Tañjung Pura = Kerajaan Tanjung pura, Ketapang, Kalimantan Barat
  • Haru = Sumatra Utara (ada kemungkinan merujuk kepada Karo)
  • Pahang = Pahang di Semenanjung Melayu
  • Dompo = Dompu, sebuah daerah/kabupaten di pulau Sumbawa
  • Bali = Bali
  • Sunda = Kerajaan Sunda
  • Palembang = Palembang atau Kerajaan Sriwijaya
  • Tumasik = Singapura
Kata Nusantara, cakupan wilayah yang dimaksud lebih luas dibandingkan kata Indonesia. Wilayah Indonesia yang diploklamasikan pada 17 Agustus 1945, meliputi Sabang sampai Merauke. Cakupan wilayah Indonesia lebih tertuju pada daerah - daerah bekas jajahan Belanda. Wilayah yang dimaksud di dalam Sumpah Palapa yang tidak berada di wilayah Indonesia sekarang ini adalah 
1. Pahang, yang sekarang merupakan wilayah dari kesultanan Malaysia Barat;
2. Tumasik, yang sekarang merupakan negara Singapura. 

Wilayah Pahang dan Tumasik merupakan bekas jajahan Inggris, dan tidak diakui di dalam proklamasi kemerdekaan RI. Kedua Wilayah ini merupakan Saudara serumpun Bangsa Indonesia, yang merupakan bagian dari Nusantara. Kedua wilayah ini tidak dilibatkan di dalam Indonesia, akibat politik di zaman kolonial. 

Dalam perkembangan selanjutnya, istilah Nusantara, dipakai pula untuk menggambarkan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia, termasuk Semenanjung Malaya namun biasanya tidak mencakup Filipina. Indonesia, hanya meliputi wilayah dari sabang sampai merauke. Sedangkan Timor Timur yang dulu pernah menjadi wilayah Indonesia merupakan bekas jajahan Portugis, akibat perjanjian saragossa antara portugis dengan Spanyol pada 22 April 1529. Dengan demikian sungguh berbeda makna antara Indonesia dan Nusantara, yang pernah di-cita-citakan oleh Maha Patih Gajah Mada, dari kerajaan Majapahit. Cakupan wilayah Nusantara lebih luas dibandingkan Indonesia, dan sebaliknya.  

Rujukan:


INFO LINKS